rahmah
terhampar watas
hingga tak terbatas
menangkup rindu
sambut restu
kepada rahmah
keabadian
Labels: pasrah
“Semuanya, lari!!!” teriak Murse sembari melindungi Hartanto.
Hanya beberapa detik. Deru motor terdengar menjauh. Setelah deru menakutkan itu benar-benar lenyap, kawan-kawan mahasiswa yang kocar-kacir kembali ke tempat semula sembari berharap tak ada hal buruk yang terjadi.
“Tidaaak!!! Raung Mures dengan kaki kanan penuh bercak darah.
Semuanya terguncang. Mata mereka memerah. Bermacam sumpah serapah sudah akan keluar jika saja Bintang tak segera mengangkat tubuh tak bernyawa di depannya, Hartanto, dan berucap dengan suara gemetar, “Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’un…”
Klimaks peristiwa berlatar waktu 17 Mei 1998 tersebut merupakan fragmen Andromeda, Ripihan Kisah di Balik Suksesi Kepemimpinan Nasional, Mei 1998.
Andromeda menawarkan sebuah versi lain pengenangan suksesi kepemimpinan nasional 1998. Kilas balik sebuah tragedi memilukan di bulan Mei yang telah menumbalkan banyak korban dan menjadi tonggak bagi reformasi
Dengan begitu mengalir dan fasih, Nisa’ul Kamilah Chisni yang seorang aktivis gerakan mahasiswa tersebut mampu menyublimkan deretan fakta hari-hari menjelang puncak reformasi hingga saat ribuan mahasiswa mendukuki gedung MPR/DPR ke dalam bentuk fiksi.
Novel yang diproyeksikan sebagai peringatan 10 tahun Reformasi dan 100 tahun Kebangkitan Nasional 2008 ini menceritakan perjuangan Andromeda Fadilla, seorang mahasiswi tahun ketiga di Fakultas Hukum Universita Indonesia. Ia adalah pengurus senat mahasiwa dan orator ulung di hampir setiap demonstrasi.
Gadis berjilbab ini berkarib dengan Zou, seorang warga keturunan dan salah seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Sayang, perjalanan hidup perempuan berkulit kuning berambut lurus panjang sepunggung ini berakhir pilu. Ia diperkosa.
Novel ini makin lengkap dan mendebarkan dengan dihadirkannya tokoh-tokoh antagonis bagi versi mahasiswa. Dikisahkan, di negeri Mesir, Soeharto dengan cemas dan galau memantau dan mengendalikan situasi saat di negerinya terjadi gelombang tekanan dari aksi demonstrasi. Diceritakan pula tingkah pola para petrus (penembak misterius) yang begitu tenang, sadar, dan lantang, menembak sasaran “pesanan” dengan timah panas demi sebuah kebenaran versi dia.
Buku setebal 202 halaman ini melampirkan dua foto dokumentasi Kompas, foto seorang mahasiswa yang tergeletak sekarat dan tak ada yang peduli berlatar aparat berpelindung kepala, berperisai, mengacung-acungkan pentungan mengejar para demonstran serta sebuah foto ribuan mahasiswa menyemut di gedung MPR/DPR. Barangpasti ini merupakan pesan simbolik yang pengin disampaikan pengarang bahwa perjuangan terhadap “kesalahan” perlu sebuah soliditas dan pengorbanan.
Melalui Andromeda, pembaca diajak untuk memahami kenyataan yang sesungguhnya tanpa harus menunjuk hidung. Melalui narasinya pula, pembaca bisa membuat spekulasi dengan rangsangan-rangsangan cerita yang ada sehingga dipersilakan memyimpulkan siapa sebenarnya dalang kerusuhan di balik tragedi tersebut.
Di sela pengisahan hero-tragis di balik suksesi kepemimpinan nasional secara cair ini, Mila—panggilan akrab penulis buku—berpesan ke sahabatnya, para generasi bangsa: perubahan, perbaikan, kemajuan, keamanan dan beragam bentuk progresivitas negeri ini adalah tanggung jawab bersama. Tidak ada progresivitas yang instan.
Konsepsi dan Aplikasi Pendidikan Multikultural
- Penulis: Ngainun Naim & Ahmad Sauqi
- Penerbit: Ar-Ruzz Media
- Cetakan: 2008
- Tebal: 248 halaman
Satu persoalan serius yang dihadapi
Peristiwa teranyar untuk mengiyakan pernyataan tersebut adalah kekerasan yang dilakukan oleh massa beratribut Front Pembela Islam dan beberapa organisasi masyarakat terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di saat peringatan Hari Kelahiran Pancasila di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, pada 1 Juni, bulan saat buku Pendidikan Multikultural, Konsep, dan Aplikasi ini dicetak perdana.
Buku dengan akurasi tata kalimat yang sungguh baik dan memikat ini menawarkan solusi paling sistematis dan efektif untuk membumikan prinsip "toleransi dalam perbedaan dan kerja sama dalam persamaan" demi terwujudnya kehidupan yang harmoni, inklusif, dan madani, yaitu melalui pendidikan pluralis-multikultural.
Pendidikan pluralis-multikultural adalah pendidikan yang memberikan penekanan terhadap proses penanaman cara hidup yang saling menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat dengan tingkat pluralitas yang tinggi.
Tak sekadar teoretik
Kekuatan buku karya dua dosen yang aktivis ini adalah kegesitan penulis membukukan penyebaran ide pluralis-multikultural di dalam masyarakat dengan segala aspek teori disertai kerangka operasional pendidikan pluralis-multikultural di saat buku-buku maupun artikel di koran-koran yang mengangkat tema sejenis masih berkutat secara teoretik.
Dengan gamblang, buku ini menjelaskan politik pendidikan pluralis-multikultural, bagaimana formulasi kebijakan pendidikan agama dalam suatu negara memengaruhi kehidupan sosial kemasyarakatan dalam skala luas; bagaimana reorientasi pembelajaran agama; bagaimana cara mengembangkan kurikulum; hingga strategi mendesain pembelajaran berbasis pendekatan pluralis-multikultural.
Guna memberikan pemahaman holistik, pada pembahasan pendahuluan diuraikan hubungan resiprokal antara pendidikan dan kondisi sosial masyarakat. Relasi ini bermakna, apa yang berlangsung di dunia pendidikan merupakan gambaran dari kondisi yang sebenarnya di dalam kehidupan masyarakat yang kompleks. Sebaliknya juga, kondisi masyarakat tecermin dalam kondisi pendidikannya.
Di bab-bab berikutnya dijelaskan makna pendidikan dan pendidikan pluralis-multikultural, serta pluralis-multikultural dalam perspektif ajaran Islam.
Untuk mendekatkan pendidikan multikultural di bangku-bangku sekolah, buku berstempel warna merah dengan tulisan mencolok Analisis Pendidikan Nasional di bagian sampul depannya ini menawarkan beberapa langkah pengembangan kurikulum masa depan yang berdasarkan pendekatan pluralis-multikultural, di antaranya mengubah
filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini ke filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan dan fungsi setiap jenjang pendidikan; dan teori belajar yang digunakan dalam kurikulum masa depan yang memerhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Salah satu hal yang mengganggu-kalau tidak boleh dikatakan sebagai kekurangan-buku yang idealnya menjadi "santapan lezat" pembuat kurikulum, penulis buku teks, dan guru ini adalah penyajian bahasa tingkat tinggi/akademis yang (mungkin) susah dipahami oleh pembaca awam. (Kompas Jogja, 23 Juli 2008)